Amsterdam – Video dua ekor anjing yang asyik jalan-jalan bersama di Belanda menjadi viral di internet dan media sosial. Persahabatan kedua anjing yang sama-sama cacat pada kakinya ini membuat terharu banyak orang.
Dalam video itu, terlihat anjing yang lebih kecil berada di dalam tas kecil yang dipasangkan pada alat bantu jalan yang digunakan anjing yang lebih besar. Kedua kaki belakang anjing yang lebih besar tidak bisa digunakan untuk berjalan, sehingga dia dibantu semacam roda yang membantunya berjalan. Meskipun demikian, anjing ini tetap terlihat ceria.
Holly dan Susie, nama kedua anjing itu, sama-sama tidak bisa berjalan dengan sempurna. Video kedua anjing ini diposting pemiliknya di situs berbagi video, Rumble, seperti dilansir situs berbagi kisah,elitereaders.com, Kamis (25/2/2016).
“Kedua anjing yang bernama Holly dan Susie ini adalah teman baik,” tulis pengupload video itu di Rumble.
Biasanya orang-orang lebih memilih untuk mengadopsi anjing yang terlihat lucu dan sempurna. Terkadang anjing yang cacat dan sudah tua diabaikan dan tidak banyak dipilih untuk dipelihara hingga akhir hidup mereka. Padahal sebenarnya anjing-anjing seperti inilah yang lebih layak mendapatkan kasih sayang manusia. Tidak hanya anjing, kondisi ini juga berlaku untuk hewan peliharaan lainnya.
“Anjing-anjing dengan kebutuhan khusus seringkali tidak dipilih untuk dibawa pulang. Anjing-anjing ini membutuhkan perawatan dan perhatian ekstra demi memastikan kebutuhan mereka terpenuhi,” sebutlittlethings.com yang banyak memuat kisah-kisah inspiratif dunia.
“Tapi dengan sedikit kerja keras ekstra, hasilnya akan luar biasa. Anjing-anjing ini tampaknya menyadari betapa beruntungnya mereka dirawat oleh manusia yang penuh kasih,” imbuhnya.
Disebut elitereaders.com, video kedua anjing ini menjadi contoh persahabatan yang tulus meskipun diliputi keterbatasan.
Image caption Bloom, Finn dan Jill (kiri ke kanan) siap menyelesaikan masalah tikus di Palace of Westminster.
Parlemen Inggris saat ini tengah dipusingkan oleh tikus yang berkeliaran di dalam bangunan gedung Palace of Westminster.
Bangunan ini dikatakan penuh kutu dan anggota parlemen mengatakan mereka telah melihat tikus, kotoran tikus dan dan bekas gigitan tikus pada sudut-sudut dokumen resmi.
Salah satu anggota parlemen, Pauline Latham, mengatakan ia ingin memberdayakan kucing untuk menyelesaikan permasalahan tikus di kantornya.
Menanggapi keluhan ini, badan amal yang menyantuni kucing dan anjing di Inggris, Battersea Dogs and Cats Home, telah mengusulkan daftar pilihan kucing-kucing yang dikatakan bisa membatu mengatasi permasalahan tikus ini.
Badan amal itu mengatakan mereka telah menawarkan tiga ekor kucing dan masih menunggu keputusan parlemen.
Mereka adalah kucing hitam dan putih berusia tiga tahun bernama Jill yang memiliki pengalaman membasmi tikus di rumah tempat tinggal terakhinya, Finn yang berwarna jahe dan berusia empat tahun yang “akan menerkam apapun yang bergerak,” dan Bloom kucing berumur satu tahun yang “memiliki sisi nakal dan licik.”
Ketiga kucing ini adalah beberapa diantara 190 kucing yang saat ini tidak memiliki tuan.
Anggota parlemen lainnya, Anne McIntosh, mengatakan “menurut saya, asalkan situasi dikendalikan dengan hati-hati -terutama mempertimbangkan mereka yang alergi terhadap kucing- cara terbaik untuk mengontrol dan menghilangkan masalah tikus di Parlemen adalah dengan mendatangkan kucing penyelamat.”
Image caption Palace of Westminster, termasuk juga gedung parlemen di London, bermasalah dengan tikus.
Nasib jutaan kucing yang dibuang atau hilang berakhir di tempat penampungan, dan kurungan ini berdampak besar pada kesehatan mental mereka.
Di seluruh dunia, jutaan kucing ditempatkan di penampungan penyelamatan sementara. Kucing-kucing ini yang dibuang, hilang dan terlantar atau mendapatkan kekerasan, di dunia.
Banyak yang menanti untuk ditempatkan di rumah baru, tetapi mereka akan sulit untuk dirumahkan kembali. Sebagian besar kucing-kucing ini telah melewati situasi yang penuh tekanan, dan tidak membuat mereka menjadi hewan yang lucu, dan menjadi kesayangan keluarga.
Sejumlah dari kucing-kucing ini bertingkah laku sering mendesis, mencakar dan menggigit. Banyak diantaranya membutuhkan rehabilitasi secara perlahan selama berhari-hari atau berbulan-bulan.
Beberapa diantaranya tidak kehilangan rasa khawatir mereka terhadap orang asing. Hewan yang menghuni tempat penampungan dalam waktu yang lama dapat mengalami kesehatan mental.
Untuk memberikan kesempatan yang terbaik bagi kucing, perawatnya sebisa mungkin harus memastikan hewan itu untuk tinggal di tempat yang bebas stres, demi mencegah kesehatan mereka semakin memburuk.
Ini artinya kita harus memahami bagaimana dan mengapa kucing menjadi stres.
Stres atau marah? (Kredit: Chris Erwin/CC by 2.0)
Sebuah tim yang tertarik dengan kesejahteraan kucing telah mencari tahu bagaimana perilaku kucing-kucing ketika mereka pertama kali memasuki kurungan. Mereka ingin memahami bagaimana situasi ini dapat memicu tekanan pada kucing.
Untuk itu, mereka mengamati 20 ekor kucing rumah, sebagian besar yang didapat oleh pemiliknya ketika masih bayi.
Pertama mereka mengevaluasi setiap kucing dengan memberi mereka skor terendah sampai tertinggi. Kemudian mereka memantau bagaimana perilaku kucing rumah ini ketika mereka ditempatkan di tempat penampungan.
Penulis utama Lydia Rehnberg dari La Trobe University di Melbourne, Australia telah menghabiskan waktu bekerja di tempat penyelamatan kucing. Dia menyaksikan, secara langsung, bagaimana perbedaan para perawat dapat mensejahterakan seekor kucing.
Melihat bagaimana perilaku kucing ketika dikurung, tim menemukan bahwa kucing yang stres menunjukkan sebuah pola pada kebiasaan mereka.
“Meskipun kucing-kucing memiliki akses ke ruangan yang besar, mereka hampir secara ekslusif memilih untuk menghabiskan waktu mereka di ‘rumah’ kucing (sebuah tempat bersembunyi) atau tempat pendakian yang vertikal,” jelas Rehnberg.
Semakin stres seekor kucing, semakin lama waktu yang mereka habiskan di ‘rumah’ kucing. Kucing-kucing yang lebih percaya diri dan santai menghabiskan waktu lebih banyak di bagian puncak di tempat yang tinggi.
“Individu yang mengalami stres tingkat tinggi tampaknya tidak ingin melakukan sesuatu tetapi menghindari dari itu semua, di mana kucing yang tidak terlalu stres terlihat menikmati hinggap di tempat yang tinggi dan mengamati lingkungan mereka dari atas,” kata Rehnberg.
Image copyright JAMES WRAGGImage caption Bayi kucing! (Kredit: James Wragg/CC by 2.0)
Tim menemukan bahwa kucing dengan tingkat stres yang tinggi menjadi sangat pasif. Seringkali, mereka tidak melakukan sesuatu. “Seekor kucing yang memilki skor tingkat stres yang tinggi hampir menekan semua kebiasaan normalnya dan dapat meringkuk di satu tempat selama berjam-jam,” jelas Rehnberg.
Berbeda jauh dengan kucing dengan skor stres yang rendah, yang berperilaku normal. Biasanya, kucing-kucing suka bermain dan hewan yang suka berpetualang. Banyak yang secara aktif melakukan kontak sosial dengan manusia atau kucing lainnya.
Kucing-kucing yang mencakar atau mengeong dengan keras juga memiliki tingkat stres yang rendah. Kucing yang tampak “menakutkan” ini ternyata memiliki kadar stres yang lebih rendah dibandingkan mereka yang lebih pasif.
“Banyak orang yang berpikir, secara intuitif, bahwa kucing-kucing yang protes dengan keras lebih mengalami stres dan kucing yang diam meringkuk dipojokan itu ‘baik-baik saja’, tetapi itu kebalikannya,” kata Rehnberg.
Tim mempublikasikan penemuan mereka dalam jurnal Applied Animal Behaviour Science.
Image copyrightRALPH DAILYCC BY 2.0Image captionKucing yang stres menjadi lebih pasif (Kredit: Ralph Daily/CC by 2.0)
Untuk mengetahui bagaimana kucing-kucing mendapatkan manfaat dari intervensi, tim merancang perawatan lanjutan dan interaksi dengan separuh dari kucing-kucing yang digunakan dalam studi mereka.
Kucing-kucing yang menerima perawatan ekstra mengalami tekanan yang lebih rendah di hari kedua mereka dalam kurungan.
Ini menunjukkan para pemilik dan perawat dapat mengurangi tekanan yang dialami kucing dengan melakukan sesuatu yang sangat sederhana.
Termasuk mendekati seekor kucing secara pelan-pelan, menunduk untuk menyamai tinggi mereka, membiarkan mereka untuk mengenali bau Anda sebelum menyentuhnya, dan bahkan berbicara dengan suara positif dan ramah.
“Ini tampaknya sepele tetapi kucing-kucing itu merupakan hewan yang sensitif yang dapat merasakan sesuatu yang tidak kentara dari lingkungan mereka, “kata Rehnberg.
Kucing-kucing biasa dikurung di sebuah tempat yang kecil, tetapi akan membahayakan jika dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama. Banyak diantaranya berada di tempat penampungan selama beberapa bulan dan itu akan memberikan dampak yang tidak terelakan bagi kesehatan fisik dan mental kucing-kucing.
Kurungan seharusnya hanya ditempati dalam jangka waktu sependek mungkin, kata tim.
Bagaimanapun, ini tidak selalu memungkinan. Atau tidak cukup permintaan untuk merumahkan kembali seluruh kucing yang menghuni tempat penyelamatan. Mereka yang tidak diinginkan seringkali dibuang.
Untuk mencegahnya, Rehnberg mengatakan pemilik kucing, jika mungkin, harus menetralkan kucing mereka. Langkah ini mengurangi kesempatan yang mereka, atau mereka yang tidak diinginkan, akan berakhir di sebuah penampungan penyelamatan kucing.
Kucing bernama Sally meraih predikat pahlawan setelah ‘menyelamatkan’ tuannya dari kebakaran.
Seekor kucing dipuji bak pahlawan setelah berhasil menyelamatkan pemiliknya dari amukan api yang melalap rumahnya di Melbourne, Australia.
Kucing bernama Sally melompat ke atas kepala pemiliknya, sehingga membangunkannya dari tidur saat api mulai berkobar-kobar pada Senin (01/09) dini hari.
Sang pemilik kucing itu, Craig Jeeves, mengatakan Sally, yang dia adopsi beberapa tahun lalu, melompat ke atas kepalanya dan membangunkannya, sehingga dia melarikan diri dari jilatan api.
“Dia melompat di kepala saya dan berteriak,” kata Craig Jeeves, seperti dilaporkan wartawan BBC, Sophie Long.
Kebakaran itu membuat rumahnya di kawasan Wandin North, Melbourne, rusak parah, namun demikian Jeeves tidak terluka kecuali agak syok.
“Saya gembira karena selamat, tapi rasanya saya sulit melupakan peristiwa ini,” kata pria berusia 49 tahun ini.
‘Beruntung selamat’
Sementara, seorang petugas pemadaman kebakaran yang datang di lokasi kebakaran mengatakan, mereka melihat Jeeves di semak-semak di luar rumahnya ketika api melahap rumahnya.
“Dia beruntung selamat,” kata seorang petugas pemadam kebakaran, Jason Lawrence. “Api melahap habis rumahnya, api keluar dari jendela dan dinding.”
Akibat kebakaran itu, sekitar 70 atau 80 persen rumah milik Jeeves mengalami kerusakan parah.
“Penyebabnya sedang diselidiki tetapi itu sepertinya berasal dari alat pemanas,” kata Lawrence.
Kucing ini mungkin mengais-ais di sampah sehingga terjepit kaleng
Pegawai pusat penyelamatan binatang di Fife, Skotlandia, terheran-heran ketika seekor kucing yang kepalanya terjepit aleng bisa sampai ke tempat kerja mereka dengan selamat.
Kucing betina itu tibake Pusat penyelamatan binatang liar di daerah Middlebank, Skotlandia , hari Minggu dengan kepala terjepit kaleng makanan kucing.
Setelah dengan hati-hati kaleng dilepas kucing itu kemudian diperiksa.
Dan sekarang dibawa ke pusat penyelamatan binatang di Belerno, Edinburgh.
Mata kucing
Colin Seddon, manajer pusat penyelamatan binatang Skotlandia mengatakan: “Untung kucing kecil itu tidak menjadi cacat dan ia sangat senang bisa lepas dari jepitan kaleng yang membuatnya tidak nyaman.”
“Kami perkirakan kucing itu mengais-ngais di sampah dan menemukan kaleng makanan kucing.
“Mungkin setelah kepalanya terjepit masuk, ia kehilangan arah dan untungnya tidak tertindas mobil.”
Seddon menambahkan bahwa “Hal ini menggambarkan bahwa sampah yang berceceran menjadi ancaman bagi binatang liar maupu tidak dan kami selalu menganjurkan agar sebelum dibuang di tempatnya, sampah dimasukkan dulu ke dalam kantong. Ini mungkin akan menyelamatkan nyawa binatang.
Kucing itu mengenakan peneng bergambar mata kucing berwarna hijau.