We recently featured an idea for abuilt-in dog bed, but what about a bed idea for cats?
These cat beds from elevele look more like contemporary home decor pieces than cat beds. When they’re not being used by your cat, they still look like they belong as part of the overall decor scheme in your home, not like a typical cat bed.
Made from hand-felted Bergschaf natural wool, the various cat bed designs could easily work as a magazine holder or a catch-all for your phone charger, keys, and wallet, as well as a bed for your kitten.
Of course, the ideal use for the bed is as a comfy home for your feline friend, but keep in mind that cat beds don’t have to stick out and they can look good and blend in with your decor.
Masih ingat rumah makan pringsewu spanduk2 nya, jaman WiFi awal2, dibombardir dgn spanduk KM menuju restaurant.
Banyak rumah makan di jalur Pantura bangkrut akibat beroperasinya jalan tol Cipali. Omzetnya menurun. Ujung-ujungnya adalah PHK.
Rumah makan Haryanto di jalur Pantura Subang terpaksa ditutup dan dijual karena sepinya pembeli.
Foto: Bahtiar Rifai/detikX
Selasa, 28 Juni 2016
Pria separuh baya itu pelan-pelan berjalan dari musala. Langkahnya tertatih menahan berat tubuhnya.
Serangan stroke yang diderita membuatnya harus bekerja keras untuk berjalan. Musala yang hanya berjarak 20 meter dari rumahnya ditempuh selama 15 menit.
Pria berpeci haji itu adalah Tando Nasrullah, kini 62 tahun. Dia adalah pemilik rumah makan Padang Suka Menanti, yang terletak di Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Meski kondisi fisiknya rapuh dengan mata rabun, Nasrullah begitu bersemangat saat ditanya tentang efek jalan tol Cikopo-Palimanan (Cipali) terhadap usaha rumah makan miliknya yang bangkrut.
Wah, sebelum ada Cipali, kalau enggak ada mobil gede, mobil kecil juga lumayan. Kalau bus dari Sumatera rata-rata istirahat dan makan di sini.”
Saat membuka obrolan, Nasrullah meriwayatkan rumah makan Suka Menanti merupakan peninggalan orang tuanya, yang sebelumnya bernama Selera Menanti. Saat usaha itu diteruskan Nasrullah, nama rumah makan pun berganti.
Selain memiliki rumah makan, orang tua Nasrullah memiliki perusahaan otobus Cahaya Riau dengan rute Riau-Kuningan, Jawa Barat.
Rumah makan khas Padang itu merupakan yang pertama di Kecamatan Ciasem. Berdiri sejak 40 tahun lalu, rumah makan tersebut selalu ramai disinggahi bus antarprovinsi dan mobil-mobil pribadi.
“Wah, sebelum ada Cipali, kalau enggak ada mobil gede, mobil kecil juga lumayan. Kalau bus dari Sumatera rata-rata istirahat dan makan di sini,” ujar Nasrullah mengenang.
Supaya bus-bus mau singgah ke rumah makan miliknya, Nasrullah harus merogoh kocek puluhan juta rupiah. Uang tersebut dibawa ke sejumlah perusahaan otobus dengan maksud supaya armada mereka mampir membawa penumpang.
Harga kontrak ke masing-masing perusahaan otobus bervariasi. Kisarannya Rp 27-50 juta per tahun.
Untuk melayani para pelanggan, Nasrullah memiliki setidaknya 25 orang karyawan, yang terbagi dalam dua shift.
Namun, saat ini kondisinya berubah drastis sejak beroperasinya ruas tol Cipali pada 2015. Bus-bus dari Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara Barat lebih memilih lewat jalan tol dibanding jalur Pantura, yang melintasi Kecamatan Ciasem.
Sebelumnya, rumah makan Suka Menanti menghabiskan setidaknya 200 ekor ayam dalam sehari. Kini, setelah ada Cipali, lima ekor ayam pun tidak habis dalam sehari.
Bangunan bekas rumah makan di jalur Pantura Indramayu yang ditelantarkan oleh pemiliknya. Foto: Bahtiar Rifai/detikX
Alhasil, Nasrullah dan istrinya, Hanina, terpaksa menutup Suka Menanti sejak Januari 2016. Belasan karyawan pun terpaksa dirumahkan.
Menurut Nasrullah, rumah makan Padang yang bangkrut bukan hanya miliknya. Di jalur Pantura, ada beberapa rumah makan sejenis yang juga tutup.
“Di Losarang (Indramayu), rumah makan Siang Malam juga sudah tutup. Itu punya teman saya, si Rusdi namanya,” ujar Nasrullah.
Sebenarnya Nasrullah masih ingin membuka kembali rumah makannya. Namun Hanina selalu memberi saran untuk tutup saja. Pasalnya, kondisi sudah tidak memungkinkan.
Hanina punya alasan. Sejak tutup saat Lebaran 2015, rumah makan itu sempat dibuka selama dua bulan. Namun bus-bus langganan sudah tidak lewat lagi.
“Malah bus Luragung yang sudah kami kontrak tahunan tidak pernah datang-datang lagi. Mereka lewat Cipali dan uang kami tidak kembali,” kata Hanina, yang mengaku setiap tahun mengikat kontrak dengan Luragung dengan nilai Rp 27 juta.
Alasan lain yang membuat Hanina memilih menutup rumah makan adalah suaminya yang terkenastroke. “Mungkin karena terpukul,” imbuh Hanina.
Rest area tol Cipali Foto: Dhani irawan/detikcom
Parahnya lagi, harga jual lahan di wilayah itu pun ikut terjun bebas. Dulu saat belum ada jalan tol Cipali, lahan rumah makan mereka sempat ada yang menawar Rp 5 miliar. Namun sekarang harga penawaran menyusut jadi Rp 2 miliar.
Untuk bertahan hidup, Hanina memilih banting setir dengan membuka usaha konfeksi kecil-kecilan di belakang rumah makan dibantu tiga orang bekas karyawan rumah makan. Sebab, puluhan karyawan lainnya sudah dirumahkan.
Saat penutupan rumah makan, kata Hanina, semua karyawan menangis. Apalagi karyawan yang bekerja di situ sejak puluhan tahun lalu. Dari masih bujang sampai punya anak kerja di situ.
Yang sangat menyesakkan bagi Hanina, dia sampai tidak mampu memberi pesangon kepada para karyawannya. Karena memang tidak ada pemasukan sama sekali.
Praktis sampai saat ini tinggal beberapa rumah makan besar yang masih buka di jalur Pantura. Itu pun dengan pengurangan jumlah karyawan dan pemotongan biaya operasional di sana-sini.
DetikX kemudian menyambangi rumah makan Pesona Laut, yang terletak di wilayah Eretan, Kabupaten Indramayu.
Rumah makan Pesona Laut kini sepi pembeli setelah beroperasinya jalan tol Cipali
Pesona Laut memiliki pemandangan indah karena langsung menghadap ke laut.
Sebelum ada ruas tol Cipali, Pesona Laut menjadi “juara” di jalur Pantura Indramayu. Betapa tidak, selama masa mudik Lebaran, rumah makan tersebut mampu membukukan keuntungan Rp 100 juta dalam sehari.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Indramayu pernah menyematkan penghargaan ke Pesona Laut sebagai penyumbang pajak restoran terbesar se-Kabupaten Indramayu.
Tapi semuanya berubah sejak ada Cipali. Banyak pengendara yang sebelumnya melintas di jalur Pantura Jawa Barat memilih lewat jalan tol. Akibatnya, pelanggan Pesona Laut pun melayang.
DetikX kemudian berbincang dengan Zulhadi, 30 tahun, manajer Pesona Laut. Pria ini sudah bekerja selama 12 tahun di rumah makan milik Dewi Minda Fitri, pengusaha asal Medan yang tinggal di Jakarta, itu.
Zulhadi, manajer di rumah makan Pesona Laut di jalur Pantura Foto: Bahtiar Rifai/detikX
Saat diwawancarai, Zulhadi lebih banyak mengeluh sambil sesekali memandangi deretan meja yang kosong.
“Biasanya meja-meja itu penuh terisi orang-orang yang makan. Tapi, sejak ada Cipali, jadi sepi seperti ini,” kata Zulhadi sambil menunjuk ke deretan meja di rumah makan itu.
Yang datang ke Pesona Laut, ujar Zulhadi, kebanyakan mobil pribadi. Kadang-kadang orang-orang tenar, seperti Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, dan sederet artis beken, juga mampir ke Pesona Laut jika lewat Pantura.
Kini semuanya berubah drastis. Begitu Cipali beroperasi, jumlah tamu yang datang pun menyusut. Alhasil, karyawan yang sebelumnya berjumlah 90 orang kini tersisa 18 orang.
Pendapatan pun berkurang hampir 50-60 persen. Sebab, yang datang saat ini hanya dari wilayah sekitar.
Untuk omzetnya, dalam sehari Pesona Laut kini hanya bisa meraup Rp 3-5 juta. Untuk Sabtu dan Minggu, pendapatannya Rp 7-8 juta.
Hal ini selaras dengan data penerimaan pajak Kabupaten Indramayu yang diperoleh detikX. Dalam data itu tertulis, pada 2015 Pesona Laut rata-rata menyetor pajak rumah makan sebesar Rp 13.679.000 per bulan. Sedangkan pada 2016, Pesona Laut menyetor tidak sampai Rp 2 juta per bulan.
Bangunan bekas rumah makan Pringsewu di jalur Pantura Indramayu
Foto: Bahtiar Rifai/detikX
Nasib Pringsewu memang cukup tragis. Pringsewu, yang namanya kesohor di sepanjang jalur darat sepanjang Pulau Jawa, memilih tutup.
Cabangnya yang terletak di Jalan Eretan Kulon, Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, juga tutup. Halaman rumah makan itu kini banyak ditumbuhi ilalang.
Gerbang masuk ditutup oleh pagar bambu dan digembok. Bangunan satu lantai yang terletak di pinggir pantai Eretan itu pun tak terawat. Kaca-kacanya tertutup debu.
Tidak ada lagi spanduk atau umbul-umbul yang bertuliskan daftar menu yang biasanya dipublikasikan restoran ataupun di sepanjang jalan Pantura. Sekarang hanya ada plang bertulisan “Dikontrakkan”.
Merosotnya pendapatan rumah makan di Pantura dibenarkan Kepala Bidang Pendapatan 1 Dinas Keuangan Daerah Indramayu Teten Mahmud.
Setidaknya pendapatan pajak dari rumah makan di jalur Pantura Indramayu menurun hingga 50 persen. Selain rumah makan, sejumlah pompa bensin mengalami penyusutan pendapatan yang bervariasi.
Jika diakumulasi dengan pendapatan asli daerah, tutur Teten, Kabupaten Indramayu mengalami penurunan 10 persen.
Adanya jalan tol Cipali tidak berimbas langsung terhadap pendapatan Indramayu lantaran wilayah yang dilintasi tol merupakan lahan Perhutani.
Jalan tol Cipali Foto: Aditya Fajar/detikcom
“Jadi dari segi pajak bumi dan bangunan tidak kena. Karena milik Perhutani. Kalau kawasan Subang dan Majalengka milik pribadi. Jadi bisa dikenai pajak,” begitu kata Teten.
Bisa dibilang, ruas tol Cipali menimbulkan efek domino bagi pendapatan daerah maupun masyarakat yang berada di lintas Pantura Jawa Barat.
Sepinya jalur yang sebelumnya terpadat di Indonesia bukan hanya menghantam rumah makan besar. Warung-warung kecil pun terkena dampaknya.
Misalnya yang dialami Iskah, pedagang oleh-oleh tape (peuyeum) di Jalan Jatisari, Subang. Sebelumnya, per hari dia bisa mengantongi uang Rp 1 juta, tapi kini target omzet Rp 500 ribu saja terkadang meleset.
Meski begitu, nasib pedagang yang ada di Jalan Jatisari, kata Iskah, masih lebih baik dibanding yang ada di Jalur Cikalong, Subang.
Di jalur itu, menurut Iskah, banyak kios penjual peuyeum yang terpaksa tutup. “Ada yang buka juga, tapi tapenya kebuang terus,” ujar Iskah.
Keluhan lain juga muncul dari pengasong dodol, yang biasanya memanfaatkan kemacetan di Simpang Jomin, Subang.
Karena sudah tidak ada lagi kemacetan, omzet pedagang asongan pun terjun bebas. Sebelumnya setiap hari bisa pengasong mengantongi keuntungan Rp 300-500 ribu, tapi kini bisa mendapat Rp 50 ribu per hari saja sudah bersyukur.
Awalnya gathering data di internet utk Network element Project & logistic Project, dan …mudah2 an bisa berguna juga.
Sumber : nomor.net, indonesia.go.id, kodepos.nomor.net, PT Pos Indonesia (Persero), kemendagri.go.id, masing-masing Pemda (Kabupaten dan Kota), dsb.
Download files below: detail & Summary
Bila bermanfaat, anda bisa bantu kami tetap ada dgn click iklan yg ditampilkan, Terimakasih Telah membantu.
How to Work Together on a Family Project
Getting children and parents to team up seems impossible but worthwhile; Here are some strategies to foster teamwork
Can families translate sibling competitiveness into teamwork skills?
By Sue Shellenbarger
July 12, 2016 2:13 p.m. ET, Wall street Jurnal
Time to clean out the garage. Anyone game for a family project?
For plenty of parents, the response will be: Have you met my children? The idea of getting the whole family to team up on a shared project and pull it off without squabbling can seem like an almost mythical ideal.
It is possible to instill teamwork in a family, and psychologists say it is important to try. Patterns of collaboration set in childhood go a long way toward shaping children’s future behavior in the workforce.
Michael Sheehan used to challenge his three young daughters years ago to compete to “see who can get ready and in bed first,” says Mr. Sheehan of Walnut Creek, Calif. The tactic worked at first but soon led to tears and accusations of unfairness, says Mr. Sheehan, who blogs at HighTechDad.com.
He dropped the ploy after noticing that his wife Sylvia got better results by encouraging the girls to collaborate, Mr. Sheehan says. When Natasha, now 17, Alexandra, 14, and Sally, 12, were younger, Ms. Sheehan pressed them to help each other get ready for school on time, telling the older girls, “if Sally’s late, then everyone is late.” After Natasha and Alexandra taught Sally to lay out her clothes the night before and allow time in the morning to brush her hair, all three made it to school on time.
Ms. Sheehan rewarded them by allowing them to adopt a Chihuahua named Rufus. The girls are responsible for Rufus’s care. They’re also expected to team up weekly to help their parents clean the house, divvying up tasks among themselves. Ms. Sheehan hopes they’re laying the groundwork for close lifelong bonds.
“Cleaning is a lot harder” if one of them is away, Alexandra says. Sally says collaborating “definitely gets the job done faster, and it makes things more fun when you have somebody to talk to.” The sisters are pooling their savings in hopes of buying a car to share.
When Alexandra and Sally recently redecorated the bedroom they share, a wall collage of photos they created made the room seem cluttered to Alexandra. The sisters disagreed, then came up with a compromise—hanging Polaroids on a string from the ceiling instead, Alexandra says.
From left, Alexandra, Natasha and Sally Sheehan. Ms. Sheehan schedules the three sisters’ breakfasts and after-school snacks together so they have “plenty of time to bond together,” she says. Natasha, a ballerina, is studying near home with the San Francisco Ballet rather than at a boarding school abroad, in hopes that the sisters remain close.
From left, Alexandra, Natasha and Sally Sheehan. Ms. Sheehan schedules the three sisters’ breakfasts and after-school snacks together so they have “plenty of time to bond together,” she says. Natasha, a ballerina, is studying near home with the San Francisco Ballet rather than at a boarding school abroad, in hopes that the sisters remain close.
A common pitfall for parents is “falling into the trap of thinking that everyone in the family must assign the same importance to a project as they do,” says Dave Anderson, a clinical psychologist at the Child Mind Institute, a nonprofit mental-health organization in New York City. “If kids don’t see the point, they’re going to start arguing,” Dr. Anderson says.
He suggests figuring out incentives that will motivate each child. One child might see gaining more space for sports gear as reason enough to help clean the garage. Another might like making room to park the car, clearing the driveway so she can shoot hoops.
When Cara Stevens ’ 14-year-old daughter Alexa suggested holding a family tag sale next week, Ms. Stevens says, her response was, “Let’s do it.” Alexa’s brother Brandon, 9, had no interest in helping until Ms. Stevens offered both children a share of the proceeds. Brandon quickly began sorting through games and DVDs and offered dozens of items for sale, says Ms. Stevens, a Greenwich, Conn., marketing consultant.
Many parents regard school or youth sports as the primary places for learning teamwork, and fail to notice opportunities to teach it at home. Positive reinforcement works best. It’s better to “catch kids being good and reinforce it” by taking note and praising them for helpfulness or maturity, says Dr. Anderson.
Eddie Garcia, a youth-sports coach from Henderson, Nev., says he uses the same techniques he uses with young athletes to teach teamwork to his two children, Haley, 13, and Ryan, 9. He takes pains to catch them doing something well, even if it’s as simple as Haley’s getting a bottle of water from the refrigerator for Ryan. “There is constant praise around our house for the behavior we want to see,” reinforcing an overall message of “together, we’re better,” he says.
He also models the behavior he wants, working side-by-side with his children on even the most mundane projects, such as cleaning up the backyard after their two dogs.
Of course, many children’s schedules are so jammed with activities and homework that parents wonder, “How on earth can we ever get everybody together on board at the same time to do anything?” says Richard Rende, a Paradise Valley, Ariz., developmental psychologist and co-author of “Raising Can-Do Kids.”
Fostering teamwork doesn’t require setting aside blocks of time, Dr. Rende says. Children can learn to collaborate by negotiating everyday disputes. Ms. Stevens and her husband Larry step back and let Alexa and Brandon work out a compromise on such questions as choosing a restaurant on a family vacation.
Don’t assign roles, and resist jumping in to broker an agreement when conflicts arise, Dr. Rende says. Give children a chance to find a compromise. If the talk turns aggressive, suggest problem-solving tactics from the sidelines. If two siblings are watering the garden and start battling over whether the younger sibling knows how to use the hose correctly, try coaching the older one: “Do you think you can show your brother how to use it?”
The way parents talk with children and each other sets an example. Children can learn collaboration by watching parents share decision-making or cooperate on tasks. Parents also can set a cooperative climate by working side-by-side with children on everyday tasks, such as clearing and rinsing dinner dishes and loading them into the dishwasher.
The Sheehan sisters in the kitchen at home. They team up to help with weekly housecleaning and other chores.
The Sheehan sisters in the kitchen at home. They team up to help with weekly housecleaning and other chores.
If the family begins a project and starts squabbling right away, try creating a shared mission, such as, “if we all work together well enough, we can finish in time to go out to dinner.”
Then applaud any moves toward collaboration: “Yes! What a team!”
Another workaround is to put siblings on a team against the grown-ups and see who can finish first. Above all, be patient: No family succeeds in every attempt at teamwork. Also, children’s collaboration skills typically improve as they get older.
Parents can assess their own family climate by running an informal experiment at home such as suggesting everyone plan a meal together. Notice how often family members argue for what they want compared with trying to find foods that please everyone, Dr. Rende says. If you find yourself dictating the menu, or if everyone is out for him or herself, try slowing down, listening more and modeling collaboration yourself.
Write to Sue Shellenbarger at sue.shellenbarger@wsj.com