Jaringan Data selular kecepatan Tinggi Tersambung otomatis ketika roaming di 135 negara: google’s project FI

Bila anda sering travelling, jgn takut lagi dgn billing charge.

Google’ Project FI , virtual data network,

Anda akan otomatis terhubung kejaringan data tercepat ketika sedang ke luar negeri 135 NEGARA ,

Dilengkapi dgn sim data only saat ini ada dibundling  dgn nexus, 
10 $ + 10$ per GB
It’s increasingly common for tech companies to dabble in the wireless carrier space—witness the recent launch of Facebook’s OpenCellular project, a baby step in its long march to “connect the world” and the near-constant speculation that Apple will spin up a network, despite Tim Cook’s denials. But for average consumers—and for travelers in particular—the only foray worth knowing about is Google’s Project Fi, which, as of today’s upgrade, might just now be the best way to stay connected while you’re traveling, full stop.
Project Fi launched last summer to surprisingly little fanfare—in part because it’s only been available to owners of Google’s own Nexus brand phones. It actually isn’t an independent network; it’s a “mobile virtual network operator,” meaning it leases bandwidth on primary networks run by Sprint, T-Mobile, and US Cellular. Its secret sauce is an ability to automatically (and invisibly) switch between networks, meaning you get stronger signal and wider range than you’d get on any individual carrier. Costs are reasonable—$10 per month base fee, plus $10 per Gb of data. You pay only for data used, and flexibility is paramount: There are no contracts, and you can cancel service any time.
Project Fi’s best feature, though, may be one just for travelers: It works abroad. In 135 countries. Without any additional costs or service agreements, or even buttons to click on websites. You just get on a plane with your Fi-enabled phone and when you land, the same network-skipping technology that shifts you from T-Mobile to Sprint at home now connects you to a network in your destination. And your phone, as a result, just works. And the costs are exactly what you’d pay at home.

Google isn’t the first company to offer this; T-Mobile’s had a similar arrangement for several years. Until today, both had similar downsides, too, which were data speeds restricted to 3G when abroad. Better than nothing—but considering modern travelers’ devotion to Instagram and Facebook photo streams, sure to be frustrating, and limiting usage in the real world to text messages and maybe—maybe—a visit to the occasional web page.
Now, though, Google has taken the brakes off. Project Fi will offer high-speed data access across its international partner networks—at no additional cost and, still, with no action required on the user’s part. That makes it about the simplest, easiest, and most cost-effective way to ensure you’re connected while traveling outside the country.
You’re still tethered to Google’s Nexus phones, at least for cell service; but there are two additional bits of good news that take some of that sting away. First, Google’s offering a steep (if temporary) discount on its flagship phone, the Nexus 6P: $150 off list price for the next week. That means you can get our favorite Android phone from last year’s impressive crop for a very reasonable $350. Even if you’re just using it as a portable hot spot for your beloved iPhone, those are some compelling economics for frequent travelers.

Second, Project Fi recently added support for data-only SIMs. If you’re a Fi subscriber, you can get a free SIM to put in a secondary phone or tablet. Data costs roll up across your devices (you can have up to nine per account) at the same $10/Gb rate, and the data-only SIMs work in all the locations Project Fi’s cell SIMs do—meaning they offer the same 135-country-wide service at the same high speeds. Best of all, they’re not restricted to Nexus phones. Project Fi claims they’ve been tested and proven to work with LTE-provisioned devices like the Nexus 7, the Nexus 9, the Galaxy Tab S, the iPad Air 2, the iPad Mini 4, and the iPad Pro. They also invite you to try the SIM with other devices; they just don’t guarantee it’ll work.

Apa itu aplikasi pembayaran tanpa hrs punya rekening atau kartu kredit, yg tlh hadir di indonesia.

P2P person to person , aplikasi mobile payment : Tapp ,menyiapkan investasi hingga $ 9 juta dolar utk memasuki pasar ekonomi uang tunai di Asia Tenggara

Dennis Mitzner
CRUNCH NETWORK KONTRIBUTOR

image

Berbasis Finlandia aplikasi pembayaran mobile Tapp Commerce telah menyiapkan hingga $ 9 juta  utk memperluas operasinya di Asia Tenggara untuk pengguna tanpa hrs py rekening bank atau kartu kredit.

Ponsel telah muncul sebagai metode pembayaran alternatif yang dominan untuk uang tunai untuk membeli dan menjual barang dan jasa di pasar negara berkembang. Dan dengan layanan mirip dengan penyedia pembayaran alternatif seperti M-Pesa dan Pagatech di Afrika yg sempat booming, seperti diketahui jarak bank terdekat di africa yg puluhan km mengakibatkan byk orng yg tdk py rekening bank.

Berkantor pusat di kota Finlandia Turku, dengan pengembangan produk di Helsinki dan kantor di seluruh Asia.

Dengan dana baru, Tapp akan memperkuat operasi di Indonesia dan memperluas ke pasar baru. Saat ini perusahaan tlh mempekerjakan sekitar 77 staff.

“Tapp akan menggunakan dana untuk memperluas cepat ke Filipina, Thailand dan Vietnam, dengan rencana dekat untuk juga membuka Myanmar pada akhir 2016. Dana ini juga akan digunakan dalam upaya akuisisi konsumen dan terus membangun layanan platform yang terus menghargai untuk dpt berpartisipasi dan membuat ikatan kebutuhan yg melekat yg pada akhirnya memberikan value utk pengguna  kami, baik pembeli penjual atau agent kami “kata Warren Contoh, CEO Tapp.

aplikasi , Tapp Market, yg bisa didownload dimarket memungkinkan orang tanpa rekening bank atau kartu kredit untuk meng-upload tunai pada aplikasi untuk membeli barang dan jasa secara online melalui jaringan penjual di pasar negara berkembang.

Dengan Tapp, pengguna dapat membeli prabayar untuk listrik, biaya kuliah, asuransi mikro, airtime dan musik, game, koin dlll.

  Siapapun bisa menjadi agen – seseorang yang dapat menerima uang tunai dalam pertukaran untuk mata uang digital – dengan data dan uang tunai.

Sekali lagi, ini adalah pasar yang sudah cukup ramai. Ayannah, didukung oleh Golden Gate Ventures dan kapitalis ventura lokal lainnya; 1Pay di Vietnam; dan 2C2P semua bertujuan untuk menyediakan layanan pembayaran untuk underbanked.

Sebenarny layanan ini diilhami oleh pay pal yg masih menjadi raja dgn segmentasi needs yg berbeda.

Di tingkat dasar, Tapp ingin mempertahankan perilaku konsumen yang sudah ada –  yaitu pembayaran scr tunai – perilaku umumnya dr  konsumen di pasar lokal.

Strategi penjualan perusahaan adalah untuk onboard, agent atau pemilik toko lokal untuk memberikan opsi  pembeli untuk mengkonversi koin dlm tagihan mereka – melalui aplikasi – ke dalam mata uang digital dalam rangka memperluas pilihan pembelian mereka.

Jd kita bisa pilih beli koin, sementara penyedia lapak online juga bisa menerima koin yg nantinya bisa ditukarkan.

Untuk bisnis, mitra utama Tapp adalah , seperti perusahaan asuransi dan listrik, pam -air bersih. Operator cellular dll

Tapp memiliki 134 mitra merchant di Indonesia dan Filipina. Pada bulan April, perusahaan bermitra dengan perusahaan asuransi yang berbasis di Indonesia Jaya Proteksi, anggota dari ACE Group, untuk menyediakan pelanggan asuransi mikro di Indonesia.

Aplikasi ini  saat ini hy bekerja  pada Android dan digunakan oleh lebih dari 30.000 vendor dengan 3 juta pembeli di Asia Tenggara.

Volume pembayaran mobile di seluruh dunia pada tahun 2015 adalah $ 450.000.000.000, dan diperkirakan akan melampaui $ 1 triliun pada 2019. Menurut McKinsey, 2,5 miliar orang dewasa di seluruh dunia – dari yang 2,2 miliar hidup di negara berkembang – tidak memiliki rekening bank.
ini  fakta bahwa adopsi smartphone meningkat pada tingkat yang cepat di pasar negara berkembang.

Dengan ponsel menjadi kendaraan pembayaran populer di seluruh dunia, negara-negara seperti Indonesia dan Filipina sangat membutuhkan solusi pembayaran independen yang tidak memerlukan kartu kredit atau rekening bank.

“Pembayaran mobile P2P dan dompet ponsel adalah cara yang bagus untuk mengaktifkan inklusi keuangan digital di negara-negara berkembang,” kata Smrithi Konanur, seorang Product Manager Global untuk Pembayaran, Web dan Mobile di HPE Keamanan Data.

Kebanyakan alternatif pembayaran mobile ke rekening bank dan kartu kredit berbasis SMS.

Tapp akan bersaing untuk pangsa pasar melawan pemain lokal seperti Kudo dan Cyrusku di Indonesia dan LoadCentral di Filipina.

pesaing paling tangguh Tapp adalah berbasis Vietnam MoMo, yang baru mendaratkan investasi $ 28.000.000 dari Standard Chartered (SCB) dan Goldman Sachs.

Salah satu alasan mengapa Google market paid, Apple dan Samsung – populer di Barat – akan tetap kurang menarik untuk pengguna di bagian Asia atau Afrika kebutuhan mereka untuk kartu kredit dan ketergantungan pada infrastruktur perbankan yang ada.

“Masalah dasar di negara berkembang adalah bahwa lebih banyak orang memiliki akun Facebook dari pada rekening bank.

Kartu kredit sebenarnya tidak relevan karena hanya layanan perbankan dasar yang diperlukan. Kami belajar bahwa hanya 23 persen dari orang di Filipina memiliki rekening bank. Kebanyakan transaksi hari ini dilakukan secara tunai, “kata Ron Hose, CEO Coins.ph, mobile wallet di Filipina.

Di Indonesia sendiri ada 250 juta orang, tetapi hanya 7-8 persen memiliki kartu kredit dan jumlah kartu kredit kemungkinan akan berkurang karena ada keputusan baru-baru ini , negara membutuhkan penyedia kartu kredit untuk mengirimkan rincian transaksi. Guna utk target pemasukan pajak

Bagaimana tanggung jawab operator ketika sambungan tlpn terputus tiba2

Pernahkah anda ketika baru menelpon sesaat lewat hp , br sj nyambung langsung drop.
Sering banget…

image

Parahnya dulu ketika masih byk operator mau tlp saja sangat susah , tarif dibanting tp tak bisa dipakai tulalit tulalit, bayangkan bila ada yg sangat urgent.
Refering Dlm indeks kpi  telco ini disebut call setup succes ratio, tingkat keberhasilan dlm menelpon.

Kembali ditopik plng atas, drop call sebenarnya juga sangat merugikan kedua belah pihak,  dr operator tdk bisa mendapatkan argo byk, krn keburu drop, customer complaint dan yg paling parah customers churn, pelanggan beralih ke operator lain.

Keep in mind customer,
Dlm Itilv3 , definisi service adlh memberikan value, 

sisi producer, memberikan sesuatu dgn standar requirement , memenuhi spefikasi dan level quality yg hrs dipenuhi.

Sisi konsumen, fitness for use,
apapun dr sisi teknis, tak akan peduli, ketika sdh mengeluarkan utk pulsa, harus ada timbal balik, yaitu harus dpt dgn mudah dipakai.

Ketika drop call, sungguh suatu hal yg merugikan, pulsa terpotong, tapi pesan komunikasi blm tersampaikan sempurna, efek lanjutnya bisa terjadi salah paham antara penelpon dan yg ditlpn.

Network tuning , optimization sering dilakukan operator, drive test, performance network record  adalah utk memastikan qualitas ada dlm batas yg bisa diterima, drop call bisa terjadi krn beberapa hal,

Signal strength, kuat lemah nya signal.

Direction Antenna bts yg tdk tepat pada traffic atau link budget yg dibawah standard.

Noise ,intra:  bisa karena pemilihan freq tdk tepat utk 2g, atau scrambling code utk umts, atau

Inter:
interf krn gangguan luar, radio liar, komunikasi data antar kantor dgn memakai freq illegal atau lain2.

Capacity congest,
Kapasitas yg sudah penuh, timeslot atau chanel element.

Ada byk investasi yg perlu dilakukan , sejalannya revenue akan mengalir bila kepuasan pelanggan diutamakan,

Dijmn abad 21 dimn komunikasi suara bisa diatas data, dijaman operator hrs berinovasi dgn ttp kualitas sbg utama.

Apakah penalty bisa diterapkan , utk menunjukkan customer adlh penting selain obyek hy utk target.?

————————–”’
Penalty to telco company to call drop.

Impact of call drop penalty will be only 0.4% of telcos’ revenue: SC

DNA WEB TEAM | Thu, 21 Apr 2016-02:36pm , Mumbai ,

The Attorney General noted that telcos make Rs 250 crore per day from calls, while penalty for call drops will only take away a small percentage of it.

Attorney General of India Mukul Rohatgi has defended the proposed penalty on telecom companies for call drops, ANI said.

Telcos have been opposing a proposed move to be penalised for call drops. The issue has been under contention for quite some time now.

However, Rohatgi said in the SC on Thursday, “Service providers don’t care about money loss to subscribers due to call drops.”

Defending the penalty on telcos, the SC said that “telecom companies have not been making any investment on their network” to improve services and curb the issue of call drops.

He also noted that “four-five service providers are running a cartel of a billion subscribers.”

“These telcos make about Rs 250 crore a day from calls, while the impact of call drop penalty will be just 0.4% of the telcos’ revenue,” he said.